![]() |
| Ilustrasi Haji dan Pertaruhan Makna: Antara Sakralitas dan Kapitalisme Religius |
Dalam tradisi Islam, haji adalah rukun kelima, puncak dari sebuah laku keberagamaan yang bersifat holistik, tidak hanya menyucikan jiwa, tetapi juga menguji fisik, kesabaran, dan solidaritas sosial. Dalam perspektif filosofi eksistensial, perjalanan haji bisa dipandang sebagai momen kenosis, pengosongan diri dari atribut duniawi demi mendekat kepada Yang Mutlak.
Di tengah lautan manusia yang berseragam ihram, batas identitas sosial, kaya-miskin, pejabat-rakyat jelata, selebgram-penulis blog tak dikenal, semestinya luluh. Dalam teori Victor Turner, ini adalah momen liminality, zona ambang di mana struktur sosial dilebur demi pencapaian pengalaman komunial yang suci.
Tapi, apakah kita benar-benar sedang menyatu dalam kesucian, atau justru terjebak dalam kerumunan yang hanya tampak khusyuk dari kejauhan drone?
Zaman dulu, orang naik haji butuh waktu berbulan-bulan, bahkan tahun. Mereka menulis wasiat sebelum berangkat, karena peluang tak kembali itu nyata. Tapi hari ini, orang bisa naik haji dan langsung livestream dari Bandara King Abdul Aziz: “Alhamdulillah, transit dulu guys, nanti lanjut thawaf ya. Jangan lupa like, share, dan subscribe.” Ini bukan sekadar soal perubahan zaman. Ini soal pergeseran motivasi.
Dalam kerangka psikologi sosial, kita bisa menelusuri konsep social signaling, yakni, bahwa tindakan-tindakan tertentu dilakukan bukan semata demi nilai intrinsiknya, tapi juga untuk memberi sinyal kepada orang lain tentang siapa kita. Maka, saat pulang haji, selain oleh-oleh kurma dan air zamzam, yang dibawa adalah perubahan nama: “Pak Slamet” menjadi “Pak Haji Slamet”, seakan telah naik kelas spiritual dan sosial sekaligus.
Padahal, menurut Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, haji yang mabrur adalah yang tidak menimbulkan kebanggaan duniawi. Tapi di masyarakat kita, haji mabrur sering diukur dari seberapa cepat kita menggelar syukuran dan mencetak undangan berbingkai emas.
Tak bisa dipungkiri, industri haji dan umrah telah menjadi mesin ekonomi raksasa. Dari paket bintang tiga sampai bintang lima-plus-plus, semuanya menawarkan “spiritual luxury” yang dikurasi sedemikian rupa: hotel menghadap Masjidil Haram, menu sarapan buffet, city tour ke Gua Hira, dan tentu, kesempatan berbelanja di Makkah Mall.
Tentu tak ada yang salah dengan kenyamanan. Tapi jika kenyamanan menjadi tujuan, lalu kita menyisipkan doa di sela belanja, apakah ini masih ibadah, atau sudah mulai menyerempet definisi wisata?
Dalam studi kajian budaya, konsep commodification of religion menunjukkan bagaimana simbol-simbol religius bisa dikomodifikasi, dikemas, dan dijual dalam bentuk paket pengalaman. Maka, haji bukan hanya ibadah, tapi juga jadi konsumsi: spiritualitas dibungkus dengan narasi prestise dan eksklusivitas.
Apakah ini berarti semua jemaah haji mencari validasi atau sekadar jalan-jalan? Tentu tidak. Akan sangat keliru untuk menggeneralisasi. Banyak yang sungguh-sungguh menempuh haji dengan jiwa yang ikhlas, niat yang murni, dan air mata yang jujur saat berdiri di Arafah. Tapi ruang refleksi ini penting, sebab kita hidup dalam zaman yang begitu haus pengakuan, di mana bahkan momen suci pun bisa diganggu oleh keinginan eksistensi digital.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya: “Apakah kita berhaji karena Allah, atau karena ingin disebut telah berhaji?”
Dan jika jawabannya tidak begitu jelas, mungkin kita butuh mabrur detector yang bisa mendeteksi niat, bukan hanya mengecek cap paspor.
Ibadah haji adalah salah satu laku spiritual paling kompleks dan kaya makna. Ia bukan hanya perjalanan menuju tanah suci, tapi juga perjalanan pulang ke dalam diri. Ketika ritual dilampaui dengan perenungan, dan simbol dijalani dengan kesadaran, maka barulah haji menjadi sebuah titik balik.
Tapi jika tidak, ia hanya menjadi titik koma, sebuah jeda sebelum kembali ke rutinitas lama, dengan gelar baru dan status sosial yang lebih tinggi.
Maka, mungkin yang paling berat dari haji bukan perjalanan ke Mekkah, tapi perjalanan setelah pulang: mampukah kita tetap lurus saat dunia menggoda kembali?
Atau, dalam versi humorisnya: “Berhaji itu mudah. Yang susah itu menahan diri untuk tidak pamer ketika sudah berhaji.”
