Sumur yang Diracuni dan Otak yang Enggan Berpikir

Redaksi |


Di zaman ini, informasi tak lagi tersembunyi di balik pagar besi. Ia melimpah ruah, mengalir lewat layar, mengendap di gawai, bahkan menyelinap di sela-sela scrolling sebelum tidur. Tapi anehnya, meski informasi begitu mudah diakses, kemampuan kita untuk berpikir jernih justru makin surut. Seperti punya kulkas penuh bahan makanan, tapi lebih sering pesan mi instan.

Salah satu gejala zaman yang makin kentara adalah kemunculan para pendengung kekuasaan, dari buzzer, influencer, hingga spin doctor yang tampil sok meyakinkan. Mereka tak sibuk membantah isi berita, tapi malah menyerang pembawanya. Ini bukan debat gagasan. Ini upaya pembunuhan karakter yang dibungkus rapi dalam narasi seolah cerdas. Gaya debatnya? Sesat pikir alias logical fallacy. Seolah masuk akal, padahal bolong di tengah.

Jurus favorit mereka adalah Poisoning the Well. Racuni dulu sumurnya, supaya siapa pun yang hendak mengambil air dianggap kotor. Kredibilitas media atau jurnalis dibunuh lebih dulu, supaya isi beritanya otomatis ditolak. Kritik dilabeli “pesanan”, investigasi dicap “tak netral”, dan semua informasi yang tak sesuai selera dianggap hoaks. Padahal bisa jadi, justru itulah data paling jernih, tapi terlalu jernih untuk mata yang terbiasa dengan keruh.

Sayangnya, kita memang tak disiapkan untuk membaca realitas dengan prosedur berpikir yang rapi. Ilmu logika jarang diajarkan sejak dini. Sekolah lebih suka melatih kita jadi penurut, bukan penalar. Pelajaran dijejali hafalan, bukan pemahaman. Kita diminta tahu apa, bukan bertanya kenapa. Akibatnya, begitu berhadapan dengan berita yang agak pelik, banyak dari kita buru-buru mengambil sikap berdasarkan rasa, bukan nalar.

Akhirnya, masyarakat dengan bacaan melimpah tetap bisa salah menyimpulkan. Bukan karena bodoh, tapi karena tak terbiasa menyusun argumen dengan tertib. Kita menganggap keyakinan pribadi sebagai kebenaran, dan opini selebtwit sebagai data. Kita tak membedakan antara berita, opini, dan propaganda. Lalu, ketika media memberitakan sesuatu yang mengejutkan atau mengguncang, reaksi pertama kita adalah: “Ah, pasti pesanan.”

Lucunya, yang dipercaya justru para pendengung yang tak pernah turun ke lapangan. Mereka hanya perlu merekam video dari dalam mobil, menatap kamera dengan wajah serius, lalu berkata: “Bro, ini gue kasih tau ya bro…” dan kita langsung merasa tercerahkan.

Lalu, kalau begitu, ke mana publik harus mencari kebenaran?

Jawabannya bukan pada siapa yang paling keras bicara. Bukan pula pada siapa yang paling banyak pengikut. Tapi pada verifikasi. Kroscek. Jangan berhenti pada percaya atau tidak percaya. Jurnalisme bukan agama, dan membaca berita bukan ibadah yang butuh keimanan. Saat ada laporan investigasi yang memicu debat, jangan buru-buru menolak hanya karena sumbernya “media itu-itu aja”. Justru di situlah kita perlu membaca lebih cermat.

Tapi ya, ini pekerjaan berat. Lebih mudah marah ketimbang membaca. Lebih cepat membagikan narasi singkat ketimbang membuka dokumen ratusan halaman. Maka tak heran, banyak orang akhirnya bersandar pada para pendengung yang menawarkan kepastian instan. Mereka tinggal percaya, tanpa harus berpikir.

Namun, percaya tanpa berpikir adalah jalan pintas menuju kegelapan. Ia melumpuhkan kemampuan bertanya. Membunuh keinginan belajar. Dan menjadikan kita hanya perpanjangan dari suara yang lebih besar, bukan manusia merdeka yang bisa membentuk kesimpulannya sendiri.

Di tengah bisingnya dunia, barangkali tindakan paling sederhana, dan paling radikal adalah berpikir. Bertanya. Membaca ulang. Memeriksa ulang. Karena suara keras belum tentu benar. Dan sumur yang diracun bukan berarti airnya kotor, kadang justru karena terlalu bersih untuk dibantah.

Jadi, lain kali ketika kita mendengar seseorang berkata, “Jangan percaya media itu,” jangan buru-buru setuju. Siapa tahu, itu sumur yang sedang coba diracun.
Baca artikel lainnya di BERANDA NGAURIS