Kambing Hitam: Korban Tetap dalam Drama Kehidupan

Redaksi |
Ilustrasi kambing hitam
Dalam dunia yang penuh dengan kompleksitas, manusia punya kebiasaan yang aneh sekaligus menghibur: mencari kambing hitam. Bukan kambing yang sedang merumput tenang di padang ilalang, melainkan sosok (sering kali manusia lain) yang dijadikan tumbal demi kedamaian ilusi. Di sinilah letak keunikannya: dalam segala persoalan hidup, manusia tak hanya butuh solusi, tetapi juga butuh tokoh antagonis. Dan kalau tak ada, ya tinggal tunjuk siapa saja yang sedang lengah. Selesai perkara.

Mari kita mulai dari asal usulnya. Frasa “kambing hitam” berasal dari praktik scapegoating dalam tradisi Yahudi kuno. Dalam kitab Imamat, pada hari penebusan dosa, imam besar meletakkan tangan di atas kepala seekor kambing, “memindahkan” seluruh dosa umat Israel kepadanya, lalu melepaskannya ke padang gurun. Sejak itu, sang kambing bukan cuma tersesat secara geografis, tapi juga reputasinya hancur tak bersisa.

Dalam kerangka filosofis, kambing hitam mencerminkan paradoks eksistensial: kita menghindari rasa bersalah dengan cara yang, ironisnya, sangat tidak bertanggung jawab. Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis itu, mungkin akan menggelengkan kepala sambil berkata, “Man is condemned to be free, but he prefers to blame the goat.”

Sartre bicara tentang kebebasan dan tanggung jawab sebagai dua sisi mata uang. Tapi dalam praktiknya, manusia sering hanya ingin satu sisi saja: kebebasan. Tanggung jawab? Lempar ke kambing. Kalau bisa yang warnanya hitam sekalian, biar dramatis. Biar cocok jadi tokoh antagonis sinetron jam 9 malam.

Friedrich Nietzsche pun barangkali akan menyela dengan nada sinis: “Manusia modern tidak siap menatap kebenaran. Maka ia menciptakan moralitas kambing hitam agar bisa terus menipu dirinya sendiri.” Nietzsche, dengan semangat mengguncang nilai-nilai lama, bisa jadi menyarankan kita agar jangan terlalu cepat menunjuk kambing sebelum menatap cermin. Siapa tahu yang terlihat di sana bukan kambing, tapi wajah kita sendiri.

Lalu apa daya kambing dalam hal ini? Tak satu pun dari mereka diberi ruang klarifikasi. Mereka tak punya juru bicara, tak pernah diundang podcast. Tak pernah ada acara “Mata Kambing: Pengakuan Sang Tumbal”. Nasib mereka seperti karakter figuran dalam drama besar kehidupan: muncul sebentar, disalahkan, lalu lenyap tanpa kredit.

Namun, mari kita tarik napas dan tertawa sebentar. Sebab hidup terlalu absurd kalau ditanggapi terlalu serius. Lihat saja: di kantor, ketika proyek gagal, orang tak bilang “saya lalai,” tapi “itu karena sistem.” Ketika negara gagal, bukan pemimpinnya yang dicurigai, tapi “oknum.” Kalau cuaca buruk? Salah BMKG. Kalau cinta ditolak? Salah zodiak. Dan ketika semua jawaban sudah mentok, barulah seseorang akan membatin, “Mungkin ini semua gara-gara si Udin.” Nah, Udin lah sang kambing.

Padahal, dalam banyak kasus, Udin cuma datang rapat, duduk diam, dan pulang tepat waktu.

Fenomena ini mengajarkan satu hal penting: manusia lebih suka kejelasan palsu daripada ketidakpastian yang jujur. Menyalahkan seseorang, bahkan secara tidak adil, memberi rasa lega. Rasa seolah-olah masalah telah diurai, meskipun hanya lewat pengorbanan satu kambing yang tak tahu-menahu.

Tapi tentu, kita tak harus terus hidup seperti ini. Kita bisa berhenti sejenak dari kebiasaan menunjuk dan mulai bertanya: “Apa peranku dalam kekacauan ini?” Meski menyakitkan, pertanyaan itu jauh lebih bergizi daripada sekadar menyebut nama kambing.

Dan jika pun kita harus mencari kambing, carilah yang betul-betul kambing. Bukan orang lain yang sedang apes lewat di depan masalah kita. Atau, minimal, undanglah kambing itu bicara di forum terbuka. Siapa tahu dia punya argumen.

Kambing hitam hanyalah simbol. Tapi simbol ini sudah terlalu lama dipakai sebagai pelindung rasa malas dan takut kita akan tanggung jawab. Dunia akan sedikit lebih waras kalau kita berhenti menyalahkan dan mulai belajar bertanggung jawab. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, kambing-kambing bisa hidup damai, tak lagi dihantui reputasi buruk. Mungkin mereka bahkan bisa mencalonkan diri jadi presiden.
Baca artikel lainnya di BERANDA NGAURIS